Tiga Kunci Sukses Belajar Fikih

Belajar fikih itu memiliki beberapa sisi yang masing-masingnya memiliki tuntunannya sendiri.

Pertama: Dari sisi niat, maka kita diwajibkan untuk mengikhlaskan amalan ibadah kita hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak diragukan lagi, belajar fikih adalah ibadah, sehingga wajib bagi kita untuk senantiasa meluruskan dan memurnikan niat ketika belajar.

Kedua: Dari sisi cara belajar, maka tidak wajib bagi kita untuk belajar fikih dengan madzhab. Apalagi jika kita adalah orang awam, yang bisa jadi fokus utama kita hanyalah bagaimana cara beribadah kepada Allah sesuai dengan tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa ingin berdalam-dalam di ilmu fikih, maka belajar fikih kepada ahli ilmu itu sudah mencukupi, tanpa harus bermadzhab. Tetapi, dia harus ingat bahwa dia adalah orang awam, sementara ilmu fikih itu adalah samudra yang sangat luas. Tidak boleh baginya untuk mengatakan bahwa kebenaran itu terletak pada pendapat gurunya seluruhnya.

Adapun jika kita adalah penuntut ilmu yang ingin menguasai ilmu fikih bi-idznillah, maka sangat direkomendasikan untuk belajar fikih dengan madzhab. Karena literatur fikih di madzhab itu sudah lengkap, dari kitab ulama’ kontemporer yang biasanya untuk pemula, hingga kitab ulama’ terdahulu yang biasanya tidak akan bisa dipahami dengan baik kecuali oleh orang yang telah mendapatkan training yang bagus dalam ilmu fikih. Kalau belajar fikihnya tidak terstruktur, maka pasti akan babak belur ketika membaca kitab-kitab mutaqaddimin.

Akan tetapi, seorang penuntut ilmu yang bermadzhab itu tidak boleh fanatik dengan madzhabnya. Tidak boleh baginya untuk mengatakan bahwa kebenaran itu terletak pada pendapat madzhabnya seluruhnya. Jadikan diskusi ilmiah memang sebagai diskusi ilmiah, bukan untuk menjatuhkan madzhab lain atau merasa madzhabnya dijatuhkan.

Ketiga: Dari sisi guru, maka wajib bagi kita untuk berguru pada seorang yang mutqin ilmunya dan lurus akidahnya. Misalnya, jika kita belajar madzhab Syafi’iy, maka belajarlah dari ulama’ madzhab Syafi’iy yang akidahnya lurus. Jika kita belajar madzhab Hanbaliy, maka belajarlah dari ulama’ madzhab Hanbaliy yang akidahnya lurus. Demikian pula untuk madzhab-madzhab yang lain.

Perlu diperhatikan bahwa dalam masalah akidah, maka seorang Hanafiy, Malikiy, Syafi’iy, ataupun Hanbaliy, semuanya seharusnya berada di atas akidah yang sama, yaitu akidah ahlus-sunnah sesuai dengan pemahaman salaf yakni generasi terdahulu.

Itu mengapa tidak tepat jika seorang pelajar itu menjadi zuhud yakni menjauh dari kitab-kitab akidah shahihah yang ditulis oleh para ulama’ yang bermadzhab lain dari madzhabnya. Misalnya, walaupun kita bermadzhab Syafi’iy, maka jangan zuhud dari kitab-kitab Ibnu Taimiyyah, Ibnul-Qayyim, Muhammad ibn ‘Abdil-Wahhab, dll, walaupun mereka bermadzhab Hanbaliy. Demikian pula, walaupun kita bermadzhab Hanbaliy, maka jangan zuhud dari kitab-kitab al-Muzaniy, al-Lalika’iy, al-‘Imraniy, dll, walaupun mereka bermadzhab Syafi’iy. Dan demikian juga para ulama’ lainnya di madzhab-madzhab lainnya, rahimahumullahu ajma’in.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kita kefaqihan dalam agama-Nya ini dan memudahkan kita untuk mengamalkan ilmu yang telah kita pelajari. Aamiin Yaa Rabb.

Penulis: Ustadz Dr. Andy Octavian Latief
Artikel Al-Minhaj Institute

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top