Air Thahur dan Air Mutlak

Air terdiri atas tiga kategori:

Pertama: Air thahur.

Yaitu air mutlak, yakni air yang tetap dalam sifat asli diciptakannya, baik apakah ia keluar dari bumi atau turun dari langit, tidak peduli warnanya.

Air thahur didefinisikan di sini oleh penulis sebagai air mutlak. Di kalangan para ulama’ Hanabilah, ada sebagian ulama’ yang mendefinisikan air thahur sebagai air mutlak seperti ini, yaitu air yang tetap dalam sifat asli diciptakannya.

Mengapa disebut air mutlak? Karena ketika seseorang melihat air tersebut, maka dia akan mengatakan bahwa ini adalah air. Dia tidak akan menyebutkan catatan tambahan seperti pada kasus air mawar atau air za’faran, maka ini sudah merupakan nama untuk cairan tertentu atau sifat air tersebut berubah dengan banyak sehingga orang yang melihatnya tidak akan lagi menyebutnya sebagai air secara mutlak tanpa catatan tambahan. Air yang diberikan catatan tambahan seperti ini disebut sebagai air muqayyad.

Na’am, orang bisa berkata, “Ini air laut, air sungai, air sumur, dll.” Ini ada catatan tambahan juga, tetapi di sini catatannya disebut qaid munfakk, yaitu catatan yang tidak selalu ada pada air tersebut. Ketika misalnya air sungai tersebut kita timba lalu kita pindahkan dari sungai tersebut dan kita letakkan di sebuah ember, kemudian kita tanyakan pada seseorang apa yang ada dalam ember tersebut, maka dia tentu akan berkata, “Ini adalah air.” Dia tidak akan mengetahui apakah ini adalah air dari sungai atau air dari sumur. Itu mengapa ketika seseorang menyebut “air sungai”, maka catatan “sungai” ini adalah catatan yang tidak selalu menempel pada air tersebut.

Adapun air mawar, maka orang bisa mencium wanginya sehingga dia akan mengetahui bahwa itu adalah air mawar, bukan air seperti biasa. Demikian pula air za’faran, ketika seseorang melihat warnanya maka dia akan mengetahui bahwa ini bukan air biasa tetapi air za’faran. Catatan yang seperti ini disebut qaid lazim, yaitu catatan yang tidak bisa dipisahkan dari air tersebut.

Maka, yang dimaksud dengan air mutlak adalah ketika orang melihatnya, dia akan berkata bahwa ini adalah air, tanpa ada catatan tambahan. Dan air mutlak adalah air yang tetap dalam sifat asli diciptakannya. Misalnya, air laut diciptakan asin, dan air sungai diciptakan tawar, maka itu memang adalah sifat asli diciptakannya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Atau misalnya ada air yang berwarna berbeda seperti biasanya akan tetapi itulah sifat asli diciptakannya, maka ia adalah air mutlak.

Sebagian ulama’ Hanabilah mendefinisikan air thahur itu dengan air mutlak, kemudian mendefinisikan bahwa air mutlak itu adalah air yang tetap dalam sifat asli diciptakannya, baik secara haqiqiy atau hukmiy. Maksud secara haqiqiy adalah bahwa tidak ada perubahan sifat pada air tersebut, dan maksud secara hukmiy adalah bahwa sebenarnya ada perubahan sifat pada air tersebut tetapi ia tetap dikategorikan sebagai air thahur.

Akan tetapi, sebagian ulama’ Hanabilah yang lain menjelaskan bahwa air thahur dan air mutlak itu berbeda. Yang lebih umum adalah air thahur. Yakni, air mutlak itu adalah bagian dari air thahur. Oleh karena itu, mereka mendefinisikan air mutlak sebagai air yang tetap dalam sifat asli diciptakannya secara haqiqiy. Adapun air yang sudah berubah sifatnya tetapi tetap dikategorikan sebagai air thahur, maka tidak masuk dalam definisi ini.

Itu mengapa Syaikh Mar’iy al-Karmiy rahimahullah menjelaskan bahwa air thahur adalah pada umumnya merupakan air yang tetap dalam sifat asli diciptakannya. Yakni, pada umumnya air thahur itu adalah air mutlak. Akan tetapi, bisa jadi ada air lain yang sudah berubah sifatnya, namun air tersebut tetap merupakan air thahur, yakni tetap bersifat suci dan menyucikan. Maka, kita simpulkan bahwa air thahur itu lebih umum. Contoh paling utama dari air thahur adalah air mutlak, tetapi air thahur juga mencakup jenis-jenis air yang lainnya, yang mana hal ini sebentar lagi akan dibahas dalam kitab ini insyaAllah.

Air thahur adalah air yang suci dan juga menyucikan, sehingga ia bisa mengangkat hadats dan menghilangkan najis, berdasarkan firman Allah Ta’ala,

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُم مِّنَ السَّمَاءِ مَاءً لِّيُطَهِّرَكُم بِهِ

“Dan Kami turunkan kepada kalian air dari langit untuk menyucikan kalian dengannya.”1

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اللهم اغسلني من خطاياي بالماء، والثلج، والبرد.

“Ya Allah, sucikanlah aku dari dosa-dosaku dengan air, salju, dan barad (hujan es).”2

Dan juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang air laut,

هو الطهور ماؤه، الحل ميتته.

“Laut itu thahur airnya, dan halal bangkainya.”3

Dari dalil-dalil ini kita bisa mengetahui bahwa air yang turun dari langit dan air yang keluar dari bumi itu adalah air thahur. Contoh dari air yang turun dari langit adalah air hujan, salju, dan barad (hujan es), dengan syarat salju dan barad tersebut harus mencair terlebih dahulu sebelum digunakan untuk thaharah. Dan contoh dari air yang keluar dari bumi adalah air laut. Seluruh air yang turun dari langit dan keluar dari bumi itu adalah air thahur, selama ia tetap dalam sifat asli diciptakannya.

Catatan:

  • Tulisan tebal berwarna merah adalah terjemahan dari kitab at-Tashil fiy Fiqhil-‘Ibadat ‘ala Madzhabil-Imam Ahmad ibn Hanbal.
  • Tulisan berwarna hitam adalah penjelasan dari Ustadz Dr. Andy Octavian Latief hafizhahullah ketika menjelaskan kitab ini, dengan sedikit perubahan untuk memperjelas pemaparan. Klik di sini untuk menuju playlist rekaman kajian kitab ini di YouTube.
  • Klik di sini untuk membaca rangkaian artikel tentang kitab ini.

Artikel Al-Minhaj Institute

Footnotes:
  1. Surat al-Anfal: 11. []
  2. Diriwayatkan oleh al-Bukhariy dan Muslim. []
  3. Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidziy, an-Nasa’iy, dan Ibnu Majah. []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top