Definisi Thaharah

Thaharah adalah

رفع الحدث وزوال الخبث.

“Mengangkat hadats dan menghilangkan khabats.”

Yang dimaksud dengan hadats adalah

الوصف القائم بالبدن المانع من الصلاة وغيرها.

“Sebuah sifat yang melekat pada badan yang menghalangi seseorang untuk melaksanakan shalat atau selainnya.”

Dan yang dimaksud dengan khabats adalah najis.

Thaharah adalah mengangkat hadats dan menghilangkan khabats, yakni najis. Dan hadats adalah sebuah sifat yang melekat pada badan yang menghalangi seseorang untuk melaksanakan shalat atau selainnya, seperti thawaf. Adapun khabats adalah najis.

Di sini penulis menjelaskan bahwa thaharah itu ada dua, yaitu mengangkat hadats dan menghilangkan najis. Ada kategori ketiga dari thaharah, yaitu

وما في معناهما.

“Apa yang semakna dengan keduanya.”

Yakni, apa yang semakna dengan mengangkat hadats dan yang semakna dengan menghilangkan najis.

Misalnya, memperbarui wudhu’, mandi sunnah, dan basuhan kedua dan ketiga pada wudhu’. Mengapa ini disebut semakna dengan mengangkat hadats? Karena sebenarnya tidak ada hadats yang diangkat, karena memang tidak punya hadats.

Orang yang memperbarui wudhu’, maka dia sudah punya wudhu’. Akan tetapi, dia hanya memperbarui wudhu’-nya saja. Maka, memperbarui wudhu’ tidak masuk dalam frasa “mengangkat hadats” pada definisi thaharah, karena memang tidak ada hadats yang mau diangkat. Akan tetapi, memperbarui wudhu’ tetap disebut thaharah. Oleh karena itu, harus ada frasa ketiga dalam definisi thaharah, yaitu “apa yang semakna dengan mengangkat hadats”.

Demikian juga mandi yang hukumnya sunnah, karena tidak ada hadats akbar yang harus diangkat, maka hukumnya adalah sunnah. Oleh karena itu, dia tidak termasuk dalam “mengangkat hadats”, akan tetapi dia termasuk thaharah, sehingga dia masuk dalam frasa yang ketiga, yaitu “apa yang semakna dengan mengangkat hadats”.

Demikian pula basuhan yang kedua dan ketiga pada wudhu’. Hadats ashghar-nya sudah terangkat pada basuhan pertama. Tidak ada hadats yang mau diangkat ketika basuhan kedua dan ketiga. Oleh karena itu, basuhan yang kedua dan ketiga itu tidak termasuk “mengangkat hadats”, akan tetapi dia tetap termasuk thaharah. Tidak kita katakan bahwa orang yang berwudhu’, di mana masing-masing anggota wudhu’-nya dibasuh tiga kali, bahwa basuhan yang pertama saja yang disebut sebagai thaharah, dan bahwa basuhan yang kedua dan ketiga tidak termasuk thaharah. Tidak kita katakan demikian. Maka, semua basuhan tersebut adalah thaharah, dan dia juga adalah ibadah. Oleh karena itu, basuhan kedua dan ketiga itu masuk dalam frasa yang ketiga di sini, yaitu “apa yang semakna dengan mengangkat hadats”.

Demikian pula tayammum. Ketika kita tidak menemukan air untuk wudhu’ atau ghusl, maka kita harus tayammum. Tayammum itu tidak mengangkat hadats, akan tetapi dia hanya membolehkan shalat. Maka, hadatsnya tetap ada, tetapi fungsi tayammum di sini adalah untuk membolehkannya untuk melakukan shalat. Perhatikan bahwa dalam kasus ini hadatsnya tetap ada. Kalau contoh-contoh sebelumnya, yaitu memperbarui wudhu’, mandi sunnah, dan basuhan kedua dan ketiga pada wudhu’, maka hadatsnya sudah tidak ada. Oleh karena itu hukumnya sunnah. Akan tetapi tayammum, yaitu ketika seseorang tidak menemukan air, atau seseorang itu akan sakit jika dia menggunakan air, maka dia wajib untuk melakukan tayammum. Tayammum di sini tidak mengangkat hadatsnya, baik hadats ashghar-nya ataupun hadats akbar-nya, akan tetapi dia hanya membolehkan shalat. Itu mengapa tayammum masuk dalam frasa ketiga dalam definisi thaharah, yaitu “apa yang semakna dengan mengangkat hadats”.

Demikian pula dengan yang semakna dengan menghilangkan najis. Kita akan bahas nanti insyaAllah bahwa menghilangkan najis itu adalah dengan cara menyiram dengan air. Contoh yang semakna dengan menghilangkan najis adalah istijmar, yaitu istinja’ memakai batu atau yang semisalnya seperti tisu. Maka, metode yang dipakai dalam istijmar adalah menghilangkan najis dengan menggunakan batu atau yang semacamnya, yang itu bukanlah air, padahal hanya air yang bisa mengangkat hadats atau menghilangkan najis. Kita akan bahas nanti insyaAllah bahwa bahkan tidak semua air dapat digunakan untuk mengangkat hadats atau menghilangkan najis. Yakni, hanya air thahur yang bisa mengangkat hadats atau menghilangkan najis. Sehingga jika kita istinja’ memakai batu atau tisu, maka dia semakna dengan menghilangkan najis, karena dia tidak memakai alat yang memang digunakan untuk mengangkat hadats dan menghilangkan najis, yaitu air. Dengan kata lain, istinja’ dengan menggunakan batu atau yang semacamnya, yakni istijmar, itu adalah rukhshah atau keringanan yang diberikan oleh syari’at. Akan tetapi, dalam syari’at, istijmar tetap disebut sebagai thaharah, sehingga dia masuk dalam frasa ketiga dalam definisi thaharah, yaitu “apa yang semakna dengan menghilangkan najis”.

Demikian pula tayammum di madzhab Hanbaliy bisa menggantikan menghilangkan najis yang menempel di badan, jika kita tidak menemukan air. Tentunya benda najis tersebut harus berusaha dihilangkan terlebih dahulu, dengan batu atau tisu misalnya. Menggunakan batu atau tisu untuk menghilangkan najis yang ada di badan bukan pada sabilain (qubul dan dubur), seperti ketika tangannya terkena suatu benda najis, maka ini belum mencukupi untuk menghilangkan najis tersebut. Ini berbeda dengan istijmar, di mana menggunakan batu atau tisu itu sudah mencukupi untuk menghilangkan najis, seperti yang telah dibahas sebelumnya. Akan tetapi, jika najisnya menempel di badan bukan pada sabilain, maka kita gunakan batu atau tisu terlebih dahulu untuk berusaha menghilangkan najis tersebut, kemudian kita harus bertayammum. Bolehnya tayammum sebagai pengganti menghilangkan najis yang ada pada badan itu termasuk mufradatul-Hanabilah, yakni masalah di mana madzhab Hanbaliy bersendirian, yaitu memiliki pendapat yang berbeda dengan tiga madzhab lainnya. Itu mengapa tayammum dalam kasus ini masuk dalam frasa ketiga dalam definisi thaharah, yaitu “apa yang semakna dengan menghilangkan najis”.

Intinya, ada frasa ketiga dalam definisi thaharah, sehingga kita katakan bahwa thaharah adalah

رفع الحدث وزوال الخبث وما في معناهما.

“Mengangkat hadats, menghilangkan najis, dan yang semakna dengan keduanya.”

Catatan:

  • Tulisan tebal berwarna merah adalah terjemahan dari kitab at-Tashil fiy Fiqhil-‘Ibadat ‘ala Madzhabil-Imam Ahmad ibn Hanbal.
  • Tulisan berwarna hitam adalah penjelasan dari Ustadz Dr. Andy Octavian Latief hafizhahullah ketika menjelaskan kitab ini, dengan sedikit perubahan untuk memperjelas pemaparan. Klik di sini untuk menuju playlist rekaman kajian kitab ini di YouTube.
  • Klik di sini untuk membaca rangkaian artikel tentang kitab ini.

Artikel Al-Minhaj Institute

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top