Kesalahan-Kesalahan yang Dimaafkan oleh Syari’at

Kesalahan yang dilakukan karena tidak tahu hukumnya, lupa, tidak disengaja, atau dipaksa, maka hal tersebut dimaafkan.

Jika kita terapkan kaidah ini pada masalah puasa, maka syarat puasa seseorang itu batal ketika melakukan pembatal-pembatal puasa di atas adalah bahwa dia melakukannya setelah mengetahui hukumnya, ingat, dan sengaja. Jika seseorang melakukannya karena jahil terhadap hukumnya, atau lupa, atau tidak disengaja, atau dipaksa, maka puasanya tidak batal.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَيسَ عَلَيكُم جُناحٌ فيما أَخطَأتُم بِهِ وَلـٰكِن ما تَعَمَّدَت قُلوبُكُم

“Dan tidak ada dosa atas kalian terhadap apa yang kalian tidak sengaja melakukannya, tetapi (yang ada dosanya adalah untuk) apa yang disengaja oleh hati kalian.”1

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

رَبَّنا لا تُؤاخِذنا إِن نَسينا أَو أَخطَأنا

“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau tidak sengaja melakukan kesalahan.”2

Dari Abu Dzar al-Ghifariy radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إن الله تجاوز عن أمتي الخطأ والنسيان وما استُكرهوا عليه.

“Sesungguhnya Allah memaafkan bagi umatku kesalahan yang tidak disengaja, lupa, dan sesuatu yang dipaksakan untuknya.”3

Oleh karena itu, jika dia makan dan minum karena tidak sengaja atau lupa, maka puasanya tidak batal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا نسي فأكل وشرب فليتم صومه، فإنما أطعمه الله وسقاه.

“Barangsiapa yang lupa lalu dia makan atau minum maka sempurnakanlah puasanya, karena sesungguhnya Allah-lah yang memberinya makan dan minum.”4

Jika ada debu atau lalat yang masuk ke mulut dan kerongkongannya tanpa disengaja, maka puasanya tidak batal. Demikian pula, jika air tidak sengaja tertelan saat sedang mandi, berkumur, atau istinsyaq, maka puasanya tidak batal. Dari Laqith ibn Shabirah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بالغ في الاستنشاق إلا أن تكون صائما.

“Bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq kecuali jika engkau sedang berpuasa.”5

Penting untuk diingat bahwa kaidah ini juga berlaku untuk jima’. Jika seseorang melakukan jima’ di siang hari bulan Ramadhan karena tidak tahu hukumnya, lupa, atau dipaksa, maka puasanya tidak batal dan tidak ada baginya qadha’ dan kaffarah. Demikian pula jika seseorang keluar mani karena mimpi basah, maka puasanya tidak batal dan tidak ada baginya qadha’, tetapi wajib baginya untuk mandi.

Catatan: Artikel ini adalah bagian dari buku kami Tuntunan Ibadah Ramadhan di Tengah Wabah Corona. Bagian lainnya dari buku ini yang berkaitan dengan fikih puasa Ramadhan dapat disimak di sini.

Penulis: Ustadz Dr. Andy Octavian Latief
Artikel Al-Minhaj Institute

Footnotes:
  1. Surat al-Ahzab: 5. []
  2. Surat al-Baqarah: 286. []
  3. Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ibn Majah (no. 2043). []
  4. Diriwayatkan oleh al-Bukhariy (no. 1933) dan Muslim (no. 1155). []
  5. Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 142, 2366), at-Tirmidziy (no. 788), dan an-Nasa’iy (no. 87, 407). []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top