Bagaimana Mengolah Niat agar Belajar Ilmu Umum Juga Bisa Bernilai Ibadah?

Pada kegiatan Studium Generale SMA IHBS hari ini, ada pertanyaan menarik dari seorang pelajar yang tidak begitu tertarik untuk membidangi ilmu umum nantinya, karena dia lebih tertarik untuk membidangi ilmu syar’iy, dan dia tidak tahu bagaimana cara untuk membuat pelajaran ilmu umum yang dia pelajari sekarang agar menjadi bermanfaat dan sumber pahala. Jika belajar ilmu syar’iy, maka jelas manfaatnya dan pahalanya. Tetapi, bagaimana dengan ilmu umum?

Ana jawab bahwa ini kembali pada masalah niat dan bagaimana kita dalam mengolah niat. Kaidah fikih mengatakan “Innamal-a’malu bin-niyyat”, dan “al-Umur bi-maqashidiha”. Yakni, perbuatan itu bergantung pada niatnya. Belajar ilmu syar’iy saja, jika niatnya buruk seperti ingin menyombongkan diri di hadapan manusia, maka itu akan menjadi amalan yang buruk dan tercela.

Maka, bagaimana dengan ilmu umum yang saat ini sedang kita pelajari, sementara kita ingin ketika kita mempelajari tentang ilmu umum tersebut juga bisa bermanfaat dan dinilai berpahala oleh Allah?

Pertama, kita niatkan bahwa belajar kita mengenai ilmu umum tersebut adalah dalam rangka memenuhi amanah yang telah dipercayakan kepada kita. Orang tua kita telah menyekolahkan kita, dan guru kita telah menaruh kepercayaan kepada kita, bahwa kita bisa melaksanakan kewajiban di sekolah. Dan memenuhi amanah adalah sebuah amalan terpuji yang semoga kita diberi pahala oleh Allah karenanya.

Kedua, banyak hal yang sebenarnya telah kita pelajari dari ilmu-ilmu umum tersebut, walaupun tanpa kita sadari.

Misalnya, tanpa kita sadari, kita telah mempelajari tentang manajemen waktu, bagaimana mengatur jadwal belajar dan istirahat di tengah waktu sekolah dan kegiatan lainnya yang demikian padat.

Tanpa kita sadari, kita telah mempelajari tentang manajemen stress, bagaimana melewati beban yang berat seperti deadline tugas yang menumpuk, ujian yang mengantri pekan depan misalnya, dan beban kewajiban lain yang harus kita penuhi satu persatu.

Dan juga tanpa kita sadari, kita sebenarnya telah melatih diri agar memiliki kompetensi sebagai seorang pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, yang mampu bekerja secara profesional dan penuh tanggung jawab.

Semua itu telah kita pelajari walaupun tanpa kita sadari. Tidak ada pelajaran khusus bernama “manajemen waktu” atau “manajemen stress”, tetapi itu semua kita pelajari dengan praktik secara langsung. Semua yang kita pelajari ini, jika kita niatkan untuk menggunakannya dalam rangka untuk menolong agama Allah, memberikan manfaat kepada kaum muslimin, dan menyebarkan dakwah Islam, maka semoga Allah akan memberikan pahala yang besar kepada kita.

Oleh karena itu, mumpung kita masih berada dalam masa-masa yang kondusif dari fase hidup kita untuk belajar dan menuntut ilmu, mumpung kita mendapatkan kesempatan untuk belajar di salah satu sekolah terbaik dengan bimbingan guru-guru, ustadz, dan ustadzah terbaik, kita harus gunakan kesempatan ini dengan baik dan tidak boleh menyia-nyiakannya.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kita hidayah, taufiq, dan istiqamah. Dan semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang menolong agama-Nya dan mendakwahkan agama-Nya, dengan seluruh kemampuan dan potensi yang kita punya, baik itu pada ilmu syar’iy ataupun ilmu umum.

Penulis: Ustadz Dr. Andy Octavian Latief
Artikel Al-Minhaj Institute

  • Dosen Fisika ITB, alumnus Islamic University of Minnesota US dan Jami’atul-Ma’rifah al-‘Alamiyyah KSA dalam bidang fikih dan ushul fikih, alumnus Univ. of Birmingham UK, Univ. of Maryland College Park US, dan Universitas Indonesia dalam bidang fisika teori, penerima tanda kehormatan Satyalancana Wira Karya, peraih medali emas International Physics Olympiad, founder Al-Minhaj Institute, pembina ICBMN, dll. Biografi beliau selengkapnya dapat dibaca di sini.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top